Cara Melakukan Malam Pertama


Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan kepada kita, bahwa, ”Apabila salah satu kalian menikahi seorang wanita, hendaklah ia memegang ubun-ubun istrinya seraya menyebut nama Allah –Yang Mahamulia lagi Mahaagung– dan berdoa memohon berkah, lalu berdoa, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada Engkau akan kebaikannya dan kebaikan yang Engkau ciptakan padanya, dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatannya dan kejahatan sesuatu yang Engkau ciptakan padanya.”

Shalat Dua Rakaat: Tidak perlu diragukan lagi bahwa sesungguhnya shalat itu juga merupakan doa kepada Allah. Seorang lelaki menemui Ibnu Mas’ud dan berkata, ”Aku baru saja menikahi seorang gadis yang masih muda belia, namun aku khawatir ia akan marah kepadaku.”

Ibnu Mas’ud berkata kepadanya, ”Jika ia menghampirimu, suruh ia untuk shalat dua rakaat di belakangmu. Dan berdoalah, ”Ya Allah, berkahilah aku pada keluargaku, dan berkahilah mereka padaku. Ya Allah, satukanlah kami dengan kebaikan, dan pisahkanlah kami juga dengan kebaikan jika memang Engkau menghendakinya.”

Merayu Istri:
Seorang suami harus mau merayu istrinya, supaya ia merasa senang dan terhibur. Soalnya ia masih dalam keadaan tegang. Dan ia akan terus merasa asing menghadapi kehidupan rumah tangga hingga ada rayuan ini.

Berikut inilah yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada malam pengantin bersama Aisyah Radhiyallahu Anha. Setelah mendandani Aisyah, Asma’ binti Yazid bin As-Sakan memanggil Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk menghampiri Aisyah. Beliau lalu duduk di samping Aisyah. Beliau membawakan segelas minuman susu kepadanya. Dan setelah meminumnya, beliau kemudian memberikannya kepada Aisyah. Tetapi Aisyah menundukkan kepalanya karena malu. Asma’ bin Yazid lalu menyerunya seraya berkata, ”Terima gelas itu dari tangan Rasulullah!” Aisyah lalu menerima gelas itu, kemudian meminumnya sedikit. Selanjutnya beliau bersabda kepada Aisyah, ”Berikan kepada temanmu itu.” Merayu Sebelum Melakukan Hubungan Seks:

Ibnu Al-Qayyim berkata, ”Di antara sesuatu yang sebaiknya dilakukan terlebih dahulu sebelum melakukan hubungan seks ialah bermain-main dengan istri, menciuminya, dan menghisap lidahnya. Itulah yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam terhadap istri-istrinya. Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunan Abi Daud, bahwa sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menciumi Aisyah dan mengecup bibirnya.

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ”Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang melakukan hubungan seks sebelum bercumbu rayu.” Sesungguhnya bercumbu rayu dalam urusan seks pada awal pertemuan, lebih penting daripada hubungan seks itu sendiri. Idealnya, hubungan seks harus didahului dengan kesiapan psikologis untuk mempermudah penetrasi dan proses-proses selanjutnya. Perasaan romantis dan gairah atau rangsangan birahi itu tidak bisa bangkit dengan seketika. Tetapi memerlukan proses yang bertahap, supaya pasangan suami istri sama-sama dalam keadaan siap melakukan hubungan seks untuk mencapai puncak klimak.

Pada umumnya, sang suamilah yang memegang peranan penting dalam tahapan-tahapan rangsangan birahi. Dan biasanya, dialah yang harus memulai atau yang aktif mengambil inisiatif. Selanjutnya baru si istri yang berperan untuk merespon, mengimbangi, menyerah, dan memberikan dorongan semangat, agar tercapai puncak kenikmatan bersama. Ini adalah peranan yang tidak boleh diabaikan atau dikurangi. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada Jabir bin Abdullah Radhiyallahu Anhu, ”Kenapa kamu tidak mencari yang gadis saja supaya kamu bisa main-main dengannya dan ia pun bisa main-main denganmu?”.

Dalam riwayat yang lain disebutkan, ”Mengapa kamu tidak mencari wanita yang perawan berikut air liurnya?” Dalam riwayat Ka’ab bin Ujrah yang diketengahkan oleh Ath-Thabarani disebutkan, ”…supaya kamu bisa menggigitnya dan ia pun bisa menggigitmu.” Dalam bahasa Arab disebutkan laa’aba li’aban wa mula’abatan. Dan dalam riwayat Al-Mustamli disebutkan wa lu’abuha yang berarti air liur wanita yang masih gadis. Ini isyarat untuk menghisap lidah dan mengecup bibir. Hal itu lazim terjadi ketika sedang berlangsung cumbu rayu yang romantis. Dan seperti yang dikatakan oleh Al-Qurthubi, hal itu sangat mudah dilakukan.

Saling Tukar Ungkapan Perasaan:
Setiap mempelai wanita harus tahu bahwa penderitaan paling menyakitkan yang dialami oleh setiap laki-laki yang memiliki gairah seks yang besar ialah kalau ia menikah dengan seorang wanita yang dingin dan tidak bisa merespon rangsangan birahi suaminya itu, atau ia lebih memilih menekan perasaan birahinya. Sebagian besar kasus perceraian atau perpisahan suami istri sering disebabkan oleh sikap seperti ini. Oleh karena itu, setiap mempelai wanita sedapat mungkin harus berusaha keras untuk membahagiakan suaminya, merespon keinginannya, dan mengimbangi rangsangan seksualnya. Pada hakekatnya, hubungan seks antara suami istri adalah sebuah pertemuan dan penyatuan yang harus didahului oleh kesiapan mental maupun perasaan, disertai dengan perasaan menyatu serta ungkapan jiwa, dan diakhiri dengan rasa senang, pengendoran syaraf, ketenangan, dan kedamaian. Perasaan romantis seperti yang telah saya kemukakan sebelumnya, tidak bisa terwujud seketika. Tetapi harus melalui proses pembangkitan secara bertahap yang diakhiri dengan hubungan seks.

Kesiapan hubungan seks itu memiliki dua sumber: -
Sumber psikologis: Ini terkait dengan pikiran dalam pertemuan, perasaan, dan kenikmatan.- Sumber inderawi: Ini terkait dengan upaya memindahkan perasaan-perasaan nikmat kepada beberapa organ tubuh, terutama disebabkan oleh sentuhan.Kemesraan dan cumbu rayu itu bukan monopoli milik manusia saja. Tetapi juga milik binatang yang biasa melakukan hal itu sebelum melakukan hubungan kelamin. Kemesraan dan cumbu rayu itu dibagi menjadi tiga tahapan:

Pertama; kemesraan dan cumbu rayu yang bersifat pemanasan. Kedua; penetrasi.Ketiga; kemesraan penutup.Pembagian ini adalah untuk memudahkan. Ketidaktahuan terhadap pembagian ini bisa menjadi sumber kesalahan yang berlangsung terus menerus. Banyak suami yang tidak mengetahui kalau istrinya membutuhkan kemesraan dan cumbu rayu pendahuluan, sebelum ia menyerah kepada suaminya dalam keadaan terengah-engah. Dari sinilah ia perlu mulai mengetuk pintu yang rapat dan sulit dibuka. Bahkan istrinya juga membutuhkan sentuhan-sentuhan mesra yang dapat membangkitkan rangsangan birahinya.

Seorang suami yang benar-benar mencintai istrinya, ia pasti menyadari akan pentingnya kemesraan dan cumbu rayu yang juga sangat ia butuhkan. Bagi istri, hal itu merupakan bagian yang paling nikmat dalam masalah di sekitar hubungan seks. Tetapi celakanya peranan penting ini justru terkadang diabaikan oleh suami. Akibatnya, hubungan seks antar suami istri menjadi mirip sebuah perkosaan.

Seorang suami tidak boleh beranggapan bahwa istrinya hanya berusaha untuk mengandung dan melahirkan anak saja, tetapi ia juga menginginkan ungkapan cinta kasih sayang dari suaminya, kemesraan, kebersamaan, sentuhan-sentuhan lembut, dan penyatuan batin serta hati. Semua itu sering lebih berarti daripada sekadar hubungan seks itu sendiri.Betapapun seorang suami yang romantis itu lebih dicintai oleh istrinya daripada seorang suami yang kasar dan keras, kendatipun ia sangat perkasa dalam melakukan hubungan seks. Bagi seorang istri, hubungan seks bukan hanya sekadar pertemuan secara langsung antara organ-organ kelamin saja.

Akan tetapi hubungan seks harus didahului dengan ungkapan kasih sayang dan belaian-belaian lembut terus menerus, baik saat berlangsung hubungan seks maupun sesudahnya. Sebab, tindakan seorang suami yang mendadak menjauh dari istrinya paska penetrasi, pasti akan membuat marah si istri. Bahkan hal itu bisa membangkitkan kedengkiannya, sehingga ia enggan melakukan hubungan seks lagi.Harus diakui bahwa sesungguhnya hubungan seks itu bukan seperti mesin yang jika ditekan tombolnya maka permainan seks pun segera terputar. Hubungan seks ialah bersatunya perasaan dan jiwa. Tanpa adanya hasrat, hubungan seks menjadi sangat hambar.

Bahkan hubungan seks menjadi gagal tanpa adanya peran kebersamaan si istri dalam bertukar kenikmatan. Seorang suami yang tidak mendapati peran kebersamaan istrinya di tempat tidur, sangat boleh jadi ia akan mencarinya di tempat yang lain. Secara ilmiah terbukti bahwa kebersamaan emosi serta kerinduan suami istri yang tanpa dipaksakan atau direkayasa, ternyata sangat baik bagi mereka berdua dan dapat mengusir kebosanan, asalkan hal itu hanya khusus berlaku bagi mereka berdua saja yang tidak sampai keluar dari kamar tidur mereka berdua.

Hubungan Seks: Sekarang hilanglah rasa kesepian, karena mempelai wanita sudah merasa terhibur dengan gembira oleh suaminya. Ia sudah merasa tenteram menyaksikan tunas Islam tumbuh di rumahnya. Dengan demikian si mempelai pria tinggal mencumbu rayunya. Ia bebas mencium, memeluk, mendekap, dan memagut.

Jangan sekali-kali melakukan hubungan seks tanpa terlebih dahulu bercumbu rayu dan bermain-main dengan mesra. Sebab, bagi si mempelai wanita hal itu merupakan benturan psikologis sangat keras yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidup.

Bercumbu rayu dan bermain-main dengan mesra juga dapat memberikan kesiapan mental dan seksual kepada mempelai wanita. Dan hal ini sudah barang tentu dapat membantu suami istri untuk melaksanakan tugas masing-masing, tanpa ada tekanan atau ketegangan syaraf atau kegelisahan yang semua itu dapat menggagalkan kenikmatan serta kesenangan di malam pengantin.

Masing-masing suami istri harus sadar bahwa hubungan seks bukan hanya sekadar untuk memperoleh kenikmatan dan puncak klimak belaka. Lebih dari itu hubungan seks memiliki peran yang jauh lebih tinggi, yaitu mencari kesucian, menjaga kehormatan, dan membina mahligai keluarga yang sehat. Abu Dzar Al-Ghifari Radhiyallahu Anhu mengatakan, ”Beberapa orang sahabat datang menemui Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Mereka berkata, ”Wahai Rasulullah, orang-orang kaya bisa pergi dengan membawa banyak pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka bershadaqah dengan kelebihan harta mereka.”

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ”Bukankah Allah telah menjadikan apa yang bisa kalian pergunakan sebagai shadaqah? Sesungguhnya setiap bacaan tasbih (Subhanallah) adalah shadaqah, setiap bacaan takbir (Allahu Akbar) adalah shadaqah, setiap bacaan tahmid (Alhamdulillah) adalah shadaqah, setiap bacaan tahlil (La ilaha illallah) adalah shadaqah, menyuruh yang ma’ruf adalah shadaqah, mencegah dari yang mungkar adalah shadaqah, dan pada kemaluan salah seorang kalian juga ada shadaqah.” Mereka bertanya, ”Apakah salah seorang kami melampiaskan nafsu syahwatnya, ia mendapatkan pahala?” Nabi bersabda, ”Bagaimana menurut kalian, kalau seseorang melampiaskan nafsu syahwatnya pada yang haram, adakah ia berdosa karenanya? Begitu pula kalau ia melampisakannya pada yang halal, maka ia pun mendapatkan pahala.”[1]

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan, ”Setiap kenikmatan yang dapat membantu meraih kenikmatan-kenikmatan alam akhirat itu amat disukai dan diridhai oleh Allah Tuhan seru semesta alam. Orang yang melakukan hal itu ia memperoleh nikmat dari dua segi; yakni dari segi ia merasa senang karena dapat merasakan kenikmatan tersebut, dan dari segi karena nikmat tersebut dapat menyampaikannya memperoleh keridhaan Tuhannya, dan mengantarkannya kepada kenikmatan yang lebih sempurna darinya. Inilah kenikmatan yang harus diusahakan untuk diraih oleh orang yang berakal. Bukan kenikmatan yang berakibat pada puncak penderitaan, dan lenyapnya kenikmatan-kenikmatan yang besar…”

Itulah yang terjadi pada para pemeluk agama-agama lain. Mereka merendahkan urusan wanita, dan menganggapnya sebagai sumber kejahatan yang pasti. Mereka bahkan menganggap perkawinan sebagai noda, sehingga mereka kemudian melakukan pengebirian dan tidak mau menikah, atau memilih untuk memperluas kejahatan. Bagi mereka, semua itu sama saja dengan perkawinan, karena sama-sama kotor dan jahat.

Sementara seorang mukmin yang shaleh akan memperoleh pahala atas apa yang ia nikmati dari hal-hal yang diperbolehkan, sepanjang hal itu dapat menjaganya dari berbuat yang haram.

Begitulah seperti yang disabdakan oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, ”Dan pada kemaluan salah seorang kalian ada pahala.” [buntetpesantren.org]

Artikel Menarik Lainnya



1 Komentar:

Hasan mengatakan...

berapa umur Muhammad dan Siti Aisyah sewaktu mereka menikah ?
karena ada yg mengatakan bahwa Siti Aisyah baru 9th dan Rasullullah 53 th. trims

Poskan Komentar

 
Lentera Merah - Tentang sesuatu dan peristiwa di sekitar kita Website connection - All right reserved powered by Blogger